Jumat, 10 April 2015

SEMINUNG (Part 1)

"Apa ada yang pernah dengar nama Gunung Seminung ?"
"Pernah Yud, itu Gunung di Sumatra Selatan kan. Tepatnya di daerah Oku selatan."
"Tumben pinter gan ? Sudah pernah kesana?"
"Gw memang pinter, dasar kamu aja yang begok Yud. Hmm.. belum sih"
"Google aja sombong. Udah ahh Ane mau cerita dulu biar agan keracunan."

      Rencana dadakan yang awalnya ingin melakukan perjalanan mendaki gunung Dempo (lagi) terdengar bersama Adit. Lalu setelah mendapat ilham dari Tuhan  google. Kami merubah haluan untuk ke gunung Seminung.
.

"Cuma 1881 Mdpl ?? Gampanglah
"Dengkol lo melonyot. Naek tangga aja agan banyak ngomelnya"
"Hehehehe..."

Kamis malam tepatnya pukul 21.00 wib Kami berangkat dari Palembang dengan menggunakan mobil sewaan. Dengan formasi yang berangkat 7 orang dan Kak Eki sebagai sopir tunggal.
Kami yang lain tidak lah ingin membuat suasana yang membuat sopir mengantuk, Kamipun melakukan pijatan ke supir  melakukan obrolan yang membuat gelak tawa anatar sesama. Dikarenakan juga rombongan ini dibentuk dari beberapa teman yang beberapa kali Ane bareng mereka melakukan perjalanan, jadi Ane tahu mereka punya otak yang punya kemiringan sama kayak Ane.
Hujanpun menyertai kepergian kami malam itu, sepertinya Palembang tidak rela ditinggalkan sebentar oleh Ane. Haahaha...
Kurang lebih pukul 02.00 pagi kami tiba..

"Cepet ya Yud sampenya."
"Ini kebiasaan, orang belum selesai ngomong udah nyamber aja."
"Lah kata lo sendiri Tiba."
"Iya tiba, tiba di musola hahaha..."

Capek & begal pegal Kami  Kak Eki rasakan selama 5 jam perjalanan, Kamipun tiba di sebuah musola di daerah baturaja. Setelah izin dengan orang lewat kamipun beristirahat  disana.
"Ginini kalo bawakannya anak bavckpacker (gembel), meski gayanya udah pakek mobil pribadi, bukannya cari penginepan murah mala nyari penginepan gratis.
But, its my style.

 Bobok Cantik
Suminem & Sariyem capek abis kerja

Saat adzan subuh berkumandang, Kamipun segera solat dan langsung melanjutkan perjalanan menuju kota Kingstone (Baturaja). Tapi kali ini kami bukan untuk mencari batu akik #BiarKekinian tapi untuk mencari sarapan.

 Fokus Sendal baru
Abis makan langsung dibersihkan bibiknya

Setelah sarapan kami langsung tancap gas menuju tempat tujuan kami. Sekitar pukul 10.00 wib Kamipun tiba di KotaBatu. Segeralah kami menemui kuncen yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh penduduk setempat..
fyi rumah Kuncen
Sayangnya si kuncen lagi di kebon dan Kami hanya bisa bertemu sang anak, tapi kami tetap diperbolehkan untuk melakukan perjalanan ke gunung ini. Ternyata kami juga dipertemukan dengan mamang kapal yang akan mengantarkan kami langsung kekaki gunung.
Perlu diketahui gunung seminung terletak disebelah sebuah danau yang besar, jadi kami harus melakukan perjalanan menuju kaki gunung  dengan menggunakan kapal pesiar.

"Bayar berapa yud?"
"KEPO"
"Njirrr.."
"kita dapet harga Rp.150.000 antar jemput gan"
"Gak nanya !!!"
"Asemmm"

 Foto dari kapal
 Anak kecil yang ikut nganter Tapi gak bayar.. hhmmm
SOK IMUT BENER NI ANAK !!

Setelah perjalanan sekitar 15 menit, kami tiba di kaki gunung dan dikarenakan hari itu hari jumat. Ane dan kaum adam yang lain segera mencari musola tempat diselenggakannya solat jumat. Walaupun saat itu disana solat jumatnya agak membuat ane bingung karena ternyata langsung digabung dengan jamak qosor kayaknya. 
Seusai solat dan mengisi perut Kamipun bersiap untuk melakukan pendakian..

"Tunggu2 Yud, lo gak kerja. Kan hari jumat dan gak tanggal merah?"
"JANGAN DIBAHAS, YUDHINYA LAGI SAKIT GIGI DI PALEMBANG"
"OOhhh..oke paham."

13.30 wib kamipun mulai pendakian, tidak lama kemudian....
Tiba-tiba tubuh ane drop gan, langsung berasa dingin dan pucat.
Akibat jarang olahraga dan lama gak piknik ya gini, nyusahin orang.



Setelah istirahat sejenak dan diming-imingi difoto Ane langsung kembali bergairah HAHA..
Ane lumayan terkejut yang ternyata track pendakian awalnya sudah dibuat jalan begitu,
Jujur ane merasa tidak nyaman harus menaiki jalan semen begini. Bahkan menurut ane ini jalan makin buat capat capek.


Sesekali setelah melewati perkebunan warga, tampak birunya danau terlihat dari celah-celah pohon yang membuat mata dan badan kembali fit.
Tak jarang juga kami berpapasan dengan penduduk lokal yang menggunakan motor untuk membawa hasil kebun dari atas.
Ternyata jalan setapak memang sengaja dibuat untuk mempermudah warga melakukan aktivitas dikebun yang letaknya diatas bukit ini.

Sekedar informasi :
Diantara kami bertujuh belum ada yang pernah mendaki gunung ini dan hanya 1 orang (Dika) yang pernah mengunjungi daerah Danau Ranau. Jadi, kami sebelumnya hanya mengandalkan google dan menanyakan info ke beberapa temen Ane dari Lampung yang pernah mendaki gunung seminung.
Dan ternyata juga sudah hampir 1 bulan (info warga) gunung ini belum pernah didaki lagi oleh pendaki.
Jadi, Kami merasa sinetron tersanjung dan waswas saat tahu itu. Hanya doa, tekad dan kegantengan usaha yang kami punya. #TTssahhhh

Sering juga kami menumukan rumah penduduk yang sengaja dibuat untuk menjadi rumah tinggal sementara saat di ladang. Setelah hampir 2 jam perjalanan, kami tiba di sebuah musola kecil di lereng gunung.


Berasa diatas ada malaikat mau turun gitu dehh..

Setelah istirahat dan tidur yang cukup Kami melanjutkan perjalanan. JUGIJAGIJUG
Ane kira perjalanan sampai atas akan terus melewati jalan setapak seperti tadi, ternyata didapan sudah ada sebuah tulisan bertuliskan..

"PINTU RIMBA SEMINUNG 1881 MDPL"
"Terus yang kami lewati selama 2 jam tadi berapaan? Ini gunung tingginya berapa sih jadinya?"

Baru juga masuk rimba, langsung disambut dengan jalur seperti ini.
Ane makin tertantang pada saat itu melihat track nya begini.
Awalnya semangat bener naik-naik kek gini, tapi makin ke atas ternyata makin parah.
Sebenernya jalurnya hampir sama kayak gunung dempo, tapi dinding lemari (Sebutan untuk jalur 90 derajat atau hampir) didominasi tanah dan sedikit bebatuan. Jadi longsor bisa datang kapanpun apabila tidak hati-hati.
Setelah sore makin menjelang ternyata kami belum tiba dipuncak. Padahal prediksi semula kami akan tiba dipuncak magrib dan langsung dihadapkan dengan pemandangan matahari terbenam.
Tapi apalah daya, kami hanya bisa melihat sosok matahari yang mengilang perlahan lewat celah-celah pohon.
Warna merah mendominasi langit sore itu.
Saat malam mulai menjelang, ternyata kami belum tiba juga dipuncak, padahal vegetasi pohon yang semakin pendek mulai kami rasa.
Beberapa kejadian mistis kami rasakan malam itu, mulai diikuti sesosok makhluk, suara hewan, bahkan makhluk yang menunjukkan wujudnya di depan Ane, iya ane.

Tapi, kami berusaha menghiraukan hal itu semua.
"Serem yud."
"Tenang gan, masih serem muka lo."
"-____-""

Setelah perjalanan panjang dan rasa lelah untuk mengejar cinta kamu yang begitu besar. Kami tiba dipuncak dengan ditandai dengan sesosok pohon mengenakan seragam SMA yang dicoret-coret seusai kelulusan.
"Jadi kangen masa sekolah yang baru 1 tahun lalu yang lewat"
"Yud lo itu tamat udah 8 tahun yang lalu, ngak usah sok muda"
"Mulut kamu gan sampah, ane lulus baru 5 tahun yang lalu. Ngak usah ditambah 3 tahun kek kamu."

Ditambah dengan suara benturan piring yang sengaja digantungi oleh pendaki lain dipohon ditebing jurang membuat pertanda bagi yang lain kalau puncak seminung tersebut.
Kami tiba dipuncak pukul 21.00 wib, Jadi prediksi semula hanya kan menghabiskan waktu 4-5 jam ternyata kami mengahabiskan waktu 7,5 jam. Setengah jam lagi masak kue lapan jam khas Palembang jadi. 
Bintang di langit malam itu sebagai tanda menyambut kedatangan kami. Sungguh indah pemandangan langit dimalm itu, sesekali bintang jatuh tampak dan ane pun melakukan beberapa harapan saat itu #BIARKEKINIAN.

Setelah istirahat sejenak, kamipun segera mendirikan tenda dan mempersiapkan masakan yang mau dimakan malam itu.Rencana awal akan mendirikan 2 tenda, tapi ternyata 1 tenda kami mengalamai proble. Jadi sitenda tak mampu berdiri tegak sempurna.
Lagipula asal kalian tahu, lahan puncak di Seminung tidak besar. Jadi tidak meungkinkan untuk mendirikan banyak tenda disana.

Setelah tenda dan masakan sudah selesai, kamipun segera makan untuk mengisi tenaga buat tidur. haha..
Tapi malam itu ane tidak ikut bersantap malam dan langsung memutuskan untuk tidur duluan.
Saat pagi menjelang....


Sang mentari menunjukan wujudnya dibalik bukit secara perahan, yang menjadikan pagi itu istimewa.
Pemandangan seperti ini yang selalu dinantikan setiap mendaki gunung.
 Posisi menyendiri sembari menikmati alam anugrah tuhan (Sering kek gini ane kalo bepergian)
Pagi itu juga dikejutkan oleh adanya edelweis, ya edelweis (sang bunga abadi).
Sudah lama ane tak berjumpa dengan bunga ini. Di dempo ane gak pernah menemukan bunga itu.
Walau hanya mampu melihat dan mengabadikannya lewat gambar, tapi ane sudah sangat bahagia.

Tidak berapa lama kemudian, kami segeralah memasak kembali untuk mengisi perut *NomNom.
Menu : Spagethi, kopi, Nasi (tidak sempurna), roti.
Bagi kami itu sudah sangat mewah.

Sekitar pukul 10.00 wib kami berencana turun, tapi sebelumnya kami harus membereskan segela perlengkapan dahulu dan fhoto-fhoto.

 #KEKINIAN

 pemain film 7 cm
 Sengaja ditutupin biar banyak yang nanya
Bahkan beliau tidak ingin kalah untuk berfoto

Setelah semua beres, segeralah kami turun dengan melakukan doa terlebih dahulu.
Dikarenakan semalam kami tiba dipuncak sudah sangat larut dan tidaklah tampak jalur yang kimi lewati.
Saat perjalanan turun barulah semua track yang kami lewati itu terlihat,
dengan dinominasi semak belukar kami mulai lalui dengan santai. Setelah beberapa jam dan melakukan beberapa kali istirahat serat melewati hutan dan turunan terjal dan bahkan berpapasan dengan anak-anak penduduk lokal yang melakukan pendakian juga. Tibalah Kami dimusola yang tenpat kami istirahat kemarin. ternyata saat disana, ane bertemu dengan rombongan teman lama ane yang melakukan pendakian juga.

Reuni singkat
Setibanya di musola kamipun beristirahat kembali dan mengisi persediaan air minum kami dan saat itu pukul 14.00 wib.
FYI di Seminung hanya di musola ini sebagai tempat sumber mata air terakhir bagi para pendaki, selanjutnya tidak akan ditemukan lagi. Jadi diharapkan untuk membawa persediaan air yang banyak.

Tidak beberapa kemudian, kami pun melanjutkan perjalanan turun.Dengan rasa sedikit kesal saat itu terhadap Mbak tercinta yang sudah mengformat isi kamera ane. Sehingga perjalanan menjadi keluar jalur semula yang kami lalui saat pergi.
Hal hasil dikarenakan sepertinya rasa lelah sudah sangat membebani, Kami putuskan untuk mencari tumpangan penduduk dengan motor untuk bisa mangantar kami sampai kebawah.
Dengan mambayar Rp.50.000/team kami diantar kebawah secara bergilir.
Sekitar pukul 16.00 wib kami tiba dibawah.
FYI lagi di kaki gunung seminung terdapat sumber air panas alami yang bisa langsung dinikmati. Jadi kami juga lah sebagai orang penikmat akan hal itu..
Jangan melihat dari warnanya tampak kehijauan, tapi bayangkan rasa hangat yang didapatkan setelah lelah melakukan perjalanan.Segeralah kami mandi ditempat itu , dikarenakan sudah 2 hari kami tidak mandi dari berangkatnya kami dari Palembang. Sembari menunggu kapal yang akan menjemput kami.

"Enak bener Yud keknya ?"
"Bukan lagi keknya, tapi neknya gan. Ngapain kamu kerja terus, liburan dong !"
"PENGENNN"

Tidak berapa lama kemudian sang kapal menjemput kami.Segeralah kami berangkat untuk pulang.
Setibanya di dermaga, kami menuju tempat mobil kami parkir untuk bergegas menuju tempat selanjutnya.

"Tempat selanjutnya? KEMANA ?"
""RAJA AMPAT GAN"
"Kok Bisa? Ikut?"
"HAhaha... Beneran deh keknya kamu kurang piknik. Buruan gih angkat ranselnya."


Bersambung dulu ya, biar kayak sinetron.
Secepatnya dilanjutin lagi..

#Saat sebuah perjalanan mampu mengubah dirimu menjadi lebih baik lagi, maka kamu berhasil mengenal kamu sendiri jauh lebih dalam lewat perjalanan itu.






5 komentar:

  1. -_-
    beraso nian bibiknyo..
    tapi, sumpah.. tulisan kw bikin ngakak-ngakak dewek yud..
    LANJUTKAN!!! Good job!
    *penasaran part 2*

    BalasHapus
    Balasan
    1. part 2 akan dirilis setelah anniversaary seminung kito tahun depan. hhmm
      Hahaha

      Hapus
  2. kocak....

    ak jg ngakak pas bagian bibik cuci. hhha >.<

    BalasHapus